Merawat Warisan Ulama, Menghidupkan Nilainya

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَكْرَمَنَا بِالْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَهَدَانَا إِلَى طَرِيقِ الْعِلْمِ وَالْإِحْسَانِ، وَجَعَلَ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةَ الْأَنْبِيَاءِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ.

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah.

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Semoga ketakwaan tidak hanya tampak dalam ibadah, tetapi juga dalam akhlak dan manfaat kehidupan kita bagi sesama.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.

Beberapa hari lagi, bangsa Indonesia akan memperingati Hari Santri, tepatnya tanggal 22 Oktober. Momentum ini mengingatkan kita pada perjuangan para ulama dan santri dalam mendidik masyarakat, membimbing kehidupan beragama, serta ikut memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa.

Namun, ada satu pertanyaan penting yang patut kita renungkan: bagaimana menjaga agar nilai-nilai yang diwariskan para ulama tetap hidup di tengah kehidupan yang terus berubah?

Sebab, menghormati ulama tidak cukup hanya dengan mengenang nama dan perjuangannya. Penghormatan itu perlu diwujudkan dengan meneruskan nilai-nilai yang mereka ajarkan.

Setidaknya, ada tiga warisan penting para ulama yang perlu kita hidupkan: ilmu, akhlak, dan pengabdian. Ketiganya saling berkaitan. Ilmu memberikan arah, akhlak menuntun perilaku, dan pengabdian menghadirkan manfaat bagi sesama.

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah.

Warisan pertama adalah ilmu.

Rasulullah SAW bersabda:

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، وَرَّثُوا الْعِلْمَ.

Artinya: "Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu." (HR. Abu Dawud).

Para ulama menjaga warisan ilmu melalui ketekunan belajar, mengajar, dan mengamalkannya. Dari generasi ke generasi, mereka memelihara ajaran agama agar terus dipahami dan menjadi pedoman kehidupan.

Keteladanan ini semakin penting pada zaman ketika informasi begitu mudah diperoleh. Melalui telepon genggam, kita dapat mengakses berbagai penjelasan agama dalam waktu singkat. Namun, banyaknya informasi belum tentu melahirkan kedalaman pemahaman. Bahkan, pengetahuan yang terbatas kadang membuat seseorang terlalu cepat menilai dan menyalahkan orang lain.

Karena itu, para ulama mengajarkan pentingnya kesabaran dalam belajar, ketelitian dalam memahami agama, dan kerendahan hati dalam menyampaikan pengetahuan.

Allah SWT dalam surat At-Taubah ayat 122 berfirman:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَاۤفَّةً ۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَࣖ